Foto Udara Bencana Sumatera Banjir dan Longsor
HARIANEXPRESS - Foto Udara Bencana Sumatera Banjir dan Longsor. Foto udara menunjukkan kondisi terkini Sumatera yang dilanda banjir bandang dan tanah longsor. Bencana ini menyebabkan kerusakan parah dan mengancam ribuan warga.
Foto udara yang diambil pada 28 November 2025 menunjukkan kondisi mengenaskan di berbagai wilayah Sumatera. Banjir bandang dan tanah longsor melanda pulau ini setelah hujan deras mengguyur selama beberapa hari.
Kondisi terparah terlihat di wilayah pesisir barat Sumatera. Air bah menggenangi pemukiman warga jalan raya dan area pertanian. Dari foto udara terlihat ribuan rumah terendam air setinggi satu hingga tiga meter.
Bencana ini juga memutus akses transportasi darat. Jalan nasional yang menghubungkan beberapa kota terputus akibat longsor. Tim evakuasi kesulitan menjangkau korban yang terisolasi.
Data sementara menunjukkan sedikitnya 45 orang tewas dalam bencana ini. Ratusan lainnya luka-luka dan masih dalam perawatan medis. Pihak berwenang mencatat lebih dari 5000 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kerugian materiil diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Ratusan hektar sawah dan perkebunan rusak parah. Infrastruktur seperti jembatan jalan dan fasilitas umum juga mengalami kerusakan serius.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat mengatakan "Kami masih melakukan pendataan korban dan kerugian. Angka ini bisa bertambah karena masih ada beberapa daerah yang belum bisa kami jangkau."
Tim SAR gabungan dari TNI Polri BPBD dan relawan terus berupaya mengevakuasi korban. Mereka menggunakan perahu karet dan helikopter untuk menjangkau daerah terisolasi.
"Prioritas kami adalah menyelamatkan jiwa. Setiap jam sangat penting untuk korban yang masih terjebak" ujar Komandan Tim SAR Letkol Ahmad Fauzi.
Pemerintah provinsi telah mendirikan beberapa posko pengungsian. Makanan obat-obatan dan pakaian dibutuhkan mendesak. Masyarakat diimbau untuk tidak kembali ke rumah sebelum pihak berwenang menyatakan kondisi aman.
Ahli klimatologi dari BMKG menjelaskan bahwa fenomena La Nina menjadi pemicu utama hujan ekstrem ini. "Kondisi suhu permukaan laut yang lebih dingin di Pasifik tengah menyebabkan peningkatan curah hujan di Indonesia bagian barat" jelas Dr Siti Nurhaliza.
Selain itu kerusakan lingkungan juga memperparah dampak bencana. Alih fungsi lahan di hulu sungai dan deforestasi mengurangi daya serap tanah. Akibatnya air langsung mengalir ke permukaan menyebabkan banjir bandang dan longsor.
Pemerintah daerah berencana melakukan normalisasi sungai dan penanaman pohon di kawasan kritis. Sistem peringatan dini juga akan diperbaiki untuk mengurangi korban jiwa.
Warga diimbau untuk waspada terhadap potensi bencana susulan. Mereka disarankan untuk mengikuti informasi dari pihak berwenang dan tidak mendirikan bangunan di daerah rawan bencana.
Bencana ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Kerjasama antar pemerintah swasta dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.



